Prediksi Tsunami Jadi Acuan Kewaspadaan
JAKARTA (SI) – Masyarakat agar tidak merisaukan peringatan ilmuwan Eropa bahwa akan terjadi gempa disertai tsunami di pantai barat Sumatera.
Peringatan itu tidak bisa dijadikan pegangan karena sejauh ini belum ada teknologi yang bisa memprediksi gempa. Menurut Kepala Subbidang Informasi Gempa Bumi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Rahmat Triyono,peringatan ilmuwan itu sebaiknya dijadikan acuan agar selalu waspada terhadap ancaman musibah gempa.
“Sikapi dengan bijak, seperti membuat bangunan tahan gempa dan menjaga peralatan peringatan dini tsunami,” kata Rahmat kepada harian Seputar Indonesiakemarin. Posisi Indonesia yang dilalui tiga lempeng tektonik besar, lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan lempeng Pasifik, diakuinya rawan gempa.Namun,lokasi-lokasi rawan di mana ketiga lempeng tektonik tersebut bertemu bisa dipetakan, seperti Padang,Aceh, Maluku, Sulawesi, selatan Jawa,dan Papua. Berbeda dengan gempa, ujar Rahmat,tsunami justru bisa diprediksi. Wilayah episentrum gempa Indonesia yang dekat dengan pantai memudahkan untuk memprediksi tsunami.
“Peringatan tsunami akan menyelamatkan masyarakat,” terang Rahmat. Peringatan adanya gempa disusul tsunami disampaikan tim ahli seismologi, seperti dilansir kantor berita AFP Senin (18/1/2010). Peringatan itu dituangkan dalam surat untuk jurnal Nature Geoscience.Dalam peringatan itu,mereka menulis ancamangempabesardipantaibarat Sumatra yang setara kekuatannya dengan gempa Padang tahun lalu. Gubernur Sumatera Barat Marlis Rahman mengimbau warganya tidak resah dalam menyikapi isu akan terjadinya gempa yang diramalkan berkekuatan 8,5 skala Richter itu.“Kita imbau masyarakat jangan terlalu percaya dengan adanya isu gempa besar yang diperkirakan ahli barat tersebut.
Tak seorang pun yang bisa memastikan kapan gempa dan jam berapa terjadinya,” kata Marlis Rahman kemarin. Rahmat Triyono menambahkan, negara maju seperti Jepang pun tidak bisa memprediksi kapan terjadi gempa.Pascagempa Kobe yang menewaskan 5.100 orang pada 17 Januari 15 tahun lalu,ilmuwan di Jepang berusaha keras untuk menemukan teknologi yang bisa memprediksi gempa.Hingga kini,teknologi itu belum juga ditemukan.“Kejadian di Haiti sebagai buktinya.Semua terjadi spontan,”kata Rahmat. Sementara itu,Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengaku belum menyiapkan langkah terkait peringatan para ilmuwan perihal kemungkinan gempa dan tsunami di wilayah pantai barat Sumatera.
BNPB baru bergerak jika telah mendapatkan informasi dari institusi resmi pemerintah. Direktur Pengurangan Risiko Bencana BNPB Bernardus Wisnu Widjaja mengatakan, sampai saat ini BNPB belum mendapatkan informasi perihal peringatan ilmuwan barat soal kemungkinan tsunami itu.“Belum,kami belum dapat informasi soal itu,”katanya kemarin. Bernardus mengungkapkan, BNPB tidak harus merespons setiap informasi perihal kemungkinan tsunami atau gempa bumi di Indonesia. Belum bergeraknya BNPB,tegas Bernardus, sebaiknya jangan diartikan BNPB tidak tanggap terhadap segala informasi yang berkaitan dengan kemungkinan tsunami atau gempa.
BNPB,terang Bernardus,bias bergerak untuk menyiapkan langkahlangkah jika telah mendapatkan informasi dari lembaga resmi milik pemerintah, yaitu Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.
Cuaca Ekstrem
Pada bagian lain, masyarakat diminta mewaspadai cuaca ekstrem yang sedang berlangsung saat ini. BMKG memperkirakan cuaca ekstrem di Indonesia bakal berlangsung hingga Februari.“Secara klimatologis, di wilayah Jawa cuaca ini akan berlangsung Januari hingga Februari.
BMKG tidak bisa memprediksikan kapan akan mencapai puncaknya karena cuaca bersifat dinamis,” ungkap Kukuh Ribudiyanto, Kepala Subbidang Peringatan Dini Cuaca Ekstrem BMKG. Menurut Kukuh, cuaca ekstrem tersebut berupa hujan lebat disertai petir dan angin kencang. Wilayah-wilayah di Tanah Air, termasuk Jabodetabek berpotensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang. (sugeng wahyudi/ helmi firdaus)
Sumber Harian Seputar Indonesia Selasa 19/I
